Ada yang Nyaris Tertinggal di Kapal Feri, Rela Diinapkan di Sebuah Bangunan Sekolah
Foto/Net
Jalan menuju Kompleks Sakumpul Martapura dipadati umat Islam yang hendak menghadiri haul Guru Ijai
Jalan menuju Kompleks Sakumpul Martapura dipadati umat Islam yang hendak menghadiri haul Guru Ijai
Raut letih terlihat jelas, pada saat para rombongan jemaah haul turun dari bus yang di parkir tepat di depan Gang Solihin Sekumpul. Sekitar tiga tukang becak mendekat, berharap para rombongan tersebut meminta jasa mereka.SUTRISNO, Martapura
===========
"Kami mau menginap di dalam gang sini saja, jadi tidak perlu naik becak," kata salah seorang rombongan, kepada tukang becak. Bergegas mereka memasuki gang Solihin, setelah berjalan kaki sekitar 50 meter, mereka disambut oleh Yahya, salah seorang panitia haul. "Kami rombongan dari Sangatta," kata anggota rombongan.
Mengetahui hal itu, Yahya mengajak para rombongan memasuki sebuah bangunan sekolah Darul Ma'rifah. Lalu menaiki tangga, karena memang tempat para rombongan tersebut berada di kelas lantai dua. "Nah di sini tempatnya. Silakan beristirahat," kata Yahya.
Para rombongan yang kebetulan semuanya adalah ibu-ibu tersebut, langsung memasuki ruangan kelas yang berukuran sekitar enam meter persegi. Di ruangan tersebut hanya terdapat tiga tikar yang sudah disusun, dan di bagian paling belakang terdapat tumpukan bangku dan meja yang memang tidak dipergunakan oleh para murid, karena sekolah sedang libur.
Pada saat para ibu sedang sibuk menyusun barang, mereka mengizinkan penulis untuk masuk. Namun saat itu didalam kelas hanya tersisa lima jemaah dari total 13, mereka banyak yang berpamitan untuk pergi ke kamar mandi. Mungkin karena merasa badan mereka terasa lemas setelah lama di dalam perjalanan. Sehingga menurut mereka dengan mandi dapat menyegarkan badan.
Salah seorang jemaah Sukarni, mengaku baru pertama kali menghadiri haul Guru Sekumpul. Dia ikut rombongan karena penasaran dengan pembicaraan orang-orang, yang menghadiri acara haul yang selalu didatangi oleh ratusan ribu orang. "Alhamdulillah bisa diberi kesempatan berhadir di sini," ujarnya.
Saking tidak tahunya dengan Abah Guru, dia tidak sadar kalau di dalam kelas tersebut terdapat foto beliau, yang berukuran 6R dan dipasang di tengah ruangan kelas tersebut.
Saat diberi tahu, bahwa itu foto Abah Guru, dia langsung bangun dan mendekati foto tersebut. "Owh ini toh beliau," dengan logat Jawanya yang kental, karena memang dia pendatang dari Malang, Jawa Timur.
Bercerita tentang pengalaman selama di perjalanan menuju Sekumpul, menurut dia lumayan melelahkan, karena harus menempuh waktu selama 24 jam.
Dia mengaku rombongan berangkat dari Sangatta sejak pukul 14.00 Wita, Kamis (23/4), dan sampai di Sekumpul sekitar pukul 14.30 Jumat (24/4). "Lama gara-gara macet, dan di Samarinda kebetulan banjir," katanya.
Sementara itu, Hj Hawisah teman satu rombongan Sukarni mengungkapkan, didalam perjalanan terjadi kejadian lucu, dimana ada satu orang rombongan yang hampir ketinggalan, yaitu nenek Nakdif. "Waktu di penyeberangan ferry Samarinda, semua orang sudah masuk di bus, setelah mau berangkat, eh ternyata nenek belum masuk," ungkapnya sambil tertawa.
Hari semakin sore, rombongan lain juga sudah mulai berdatangan dan diantarkan oleh para panitia ke dalam ruangan kelas yang berbeda-beda. (ij/ram/jpnn)
sumber : http://kaltengpos.web.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar