‘Alqamah adalah salah seorang sahabat Nabi Muhammad Saw,
yang taat, wara’ kuat beribadah dan rajin pula berderma. Ibunya masih
hidup; rupanya beliau ini setelah berumah tangga, kurang memerhatikan
ibunya. Karena itu, terpaksalah sang Ibu mondok sendirian, dan hal ini
berlalu beberapa lama, sedang sang ibu belum juga mendapat santunannya
menurut semestinya. Maka akibat dari pada itu, sang ibunda beliau agak
kecewa dan berhati kecil terhadap anaknya ‘Alqamah yang kurang
memeperhatikan dirinya itu.
Kisah Alqamah
Konon dikisahkan bahwa pada zaman Rasulullah
ada seorang pemuda yang bernama Alqamah. Dia seorang pemuda yang giat
beribadah, rajin shalat, banyak puasa dan suka bersedekah. Suatu ketika
dia sakit keras, maka istrinya mengirim utusan kepada Rasulullah untuk memberitahukan kepada beliau akan keadaan Alqamah. Maka, Rasulullahpun mengutus Ammar bin Yasir, Shuhaib ar-Rumi dan Bilal bin Rabah
untuk melihat keadaannnya. Beliau bersabda, “Pergilah ke rumah Alqamah
dan talqin-lah untuk mengucapkan La Ilaha Illallah ”Akhirnya mereka
berangkat kerumahnya, ternyata saat itu Alqamah sudah dalam keadaan
naza’, maka segeralah mereka men-talqin-nya, namun ternyata lisan
Alqamah tidak bisa mengucapkan La ilaha illallah.
Langsung saja mereka laporkan kejadian ini pada Rasulullah. Maka Rasulullah pun bertanya, “Apakah dia masih mempunyai kedua orang tua?” Ada yang menjawab, “Ada wahai Rasulullah, dia masih mempunyai seorang ibu yang sudah sangat tua renta.”
Maka Rasulullah mengirim utusan untuk menemuinya, dan beliau berkata kepada utusan tersebut, “Katakan
kepada ibunya Alqamah, ‘Jika dia masih mampu untuk berjalan menemui
Rasulullah maka datanglah, namun kalau tidak, maka biarlah Rasulullah
yang datang menemuimu.’”
Tatkala utusan itu telah sampai pada ibunya Alqamah dan pesan beliau itu disampaikan, maka dia berkata, “Sayalah yang lebih berhak untuk mendatangi Rasulullah.” Maka, dia pun memakai tongkat dan berjalan mendatangi Rasulullah.
Sesampainya di rumah Rasulullah, dia mengucapkan salam dan Rasulullah pun menjawab salamnya.
Lalu Rasulullah bersabda kepadanya, “Wahai
ibu Alqamah, jawablah pertanyaanku dengan jujur, sebab jika engkau
berbohong, maka akan datang wahyu dari Allah yang akan memberitahukan
kepadaku, bagaimana sebenarnya keadaan putramu Alqamah?”
Sang ibu menjawab, “Wahai Rasulullah, dia rajin mengerjakan shalat, banyak puasa dan senang bersedekah.”
Lalu Rasulullah bertanya lagi, “Lalu apa perasaanmu padanya?”
Dia menjawab, “Saya marah kepadanya Wahai Rasulullah.”
Rasulullah bertanya lagi, “Kenapa?”
Dia menjawab, “Wahai Rasulullah, dia lebih mengutamakan istrinya dibandingkan saya dan diapun durhaka kepadaku.”
Maka, Rasulullah bersabda, “Sesungguhny,a kemarahan sang ibu telah menghalangi lisan Alqamah, sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat.”
Kemudian beliau bersabda, “Wahai Bilal, pergilah dan kumpulkan kayu bakar yang banyak.”
Si ibu berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang akan engkau perbuat?”
Beliau menjawab, “Saya akan membakarnya dihadapanmu.”
Dia menjawab, “Wahai Rasulullah , saya tidak tahan kalau engkau membakar anakku dihadapanku.”
Maka, Rasulullah menjawab, “Wahai
Ibu Alqamah, sesungguhnya adzab Allah lebih pedih dan lebih langgeng,
kalau engkau ingin agar Allah mengampuninya, maka relakanlah anakmu
Alqamah, demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, shalat, puasa dan
sedekahnya tidak akan memberinya manfaat sedikitpun selagi engkau masih
marah kepadanya,”
Maka dia berkata, “Wahai
Rasulullah, Allah sebagai saksi, juga para malaikat dan semua kaum
muslimin yang hadir saat ini, bahwa saya telah ridha pada anakku
Alqamah”.
Rasulullah pun berkata kepada Bilal, “Wahai Bilal, pergilah kepadanya dan lihatlah apakah Alqamah sudah bisa mengucapkan syahadat ataukah belum, barangkali ibu Alqamah mengucapkan sesuatu yang bukan berasal dari dalam hatinya, barangkali dia hanya malu kepadaku.”
Maka, Bilal pun berangkat, ternyata dia mendengar Alqamah dari dalam rumah mengucapkan La Ilaha Illallah. Maka, Bilal pun masuk dan berkata, “Wahai
sekalian manusia, sesungguhnya kemarahan ibu Alqamah telah menghalangi
lisannya sehingga tidak bisa mengucapkan syahadat, dan ridhanya telah
menjadikanya mampu mengucapkan syahadat.”
Kemudian, Alqamah pun meninggal dunia saat itu juga. Maka,
Rasulullah melihatnya dan memerintahkan untuk dimandikan lalu dikafani,
kemudian beliau menshalatkannya dan menguburkannya,
Lalu, di dekat kuburan itu beliau bersabda,
“Wahai sekalian kaum Muhajirin dan Anshar, barangsiapa yang melebihkan
istrinya daripada ibunya, dia akan mendapatkan laknat dari Allah, para
malaikat dan sekalian manusia. Allah tidak akan menerima amalannya
sedikitpun kecuali kalau dia mau bertobat dan berbuat baik pada ibunya
serta meminta ridhanya, karena ridha Allah tergantung pada ridhanya dan
kemarahan Allaoh tergantung pada kemarahannya.”
Derajat kisah:
Kisah ini lemah sekali. Sisi
kelemahannya adalah bahwa kisah ini diriwayatkan hanya dari jalur Abul
Warqa’ Fa’id bin Abdur Rahman dan dia adalah seorang yang ditinggalkan
haditsnya dan seorang yang tertuduh berdusta.
Berkata Ibnu Hibban, “Dia
termasuk orang yang meriwayatkan hadits-hadits munkar dari orang-orang
yang terkenal, dia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa dengan hadits-hadits
yang mu’dhal, tidak boleh ber-hujjah dengannya.”
Berkata Imam Bukhari, “Dia meriwayatkan dari Ibnu Abi Aufa dan dia seorang yang munkar hadits.”
Berkata Ibnu Hajar, “Dia orang yang lemah, tidak tsiqahdan ditinggalkan haditsnya dengan kesepakatan para ulama.”
Oleh karena itu, para ulama melemahkan hadits ini, di antaranya:
• Imam Ahmad dalam Musnad beliau.
• Al -Qoili dalam Adh-Dhu’afa al-Kabir, 3/461.
• Al-Baihaqi dalam Syu’abul Iman, 6/198.
• Ibnul Jauzi dalam Al-Maudhu’at, 3/87.
• Al-Mundziri dalam At-Targhib wat Tarhib, 3/222.
Karena
beliau meriwayatkan kisah ini dengan lafadz: (روي: diriwayatkan).
Sedangkan beliau mengatakan dalammuqaddimah kitab tersebut, “Apabila
dalam sanad sebuah hadits terdapat seorang pendusta, pemalsu hadits,
tertuduh berdusta, disepakati untuk ditinggalkan haditsnya, lenyap
haditsnya, lemah sekali, lemah atau saya tidak menemukan penguat yang
memungkinkan untuk mengangkat derajat haditsnya menjadi hasan, maka saya
mulai dengan lafadz (روي: diriwayatkan). Dan saya tidak menyebutkan
siapa pe-rawi-nya juga tidak saya sebutkan sisi cacatnya sama sekali.
Dari sini, maka sebuah sanad yang lemah bisa diketahui dengan dua tanda,
pertama dimulai dengan lafadz (روي: diriwayatkan), dan tidak ada
keterangan sama sekali setelahnya.”
• Adz-Dzahabi dalam Tartibul Maudhu’at, no. 874.
• Al-Haitsami dalam Majma’uz Zawa’id, 8/148.
• Ibnu ‘Araq dalam Tanzihusy Syari’ah, 2/296
• Asy-Syaukani dalam Al-Fawa’id al-Majmu’ah.
• Al-Albani dalam Dha’if Targhib.
Ganti yang shahih
Setelah
diketahui kelemahan hadits ini, maka tidak boleh bagi siapapun untuk
menyebutkan kisah ini saat membahas tentang kewajiban berbakti kepada
kedua orang tua dan larangan durhaka kepadanya. Namun perlu diketahui,
bahwa berbakti kepada kedua orang tua adalah sebuah kewajiban syar’i dan
durhaka adalah sebuah keharaman yang nyata. Banyak ayat dan hadits yang
menyebutkan hal ini, di antaranya:
Firman Allah Ta’ala,
وَقَضَى
رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا
تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا
كَرِيمًا
“Dan
Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan
hendaklah kamu berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya.
Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur
lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah mengatakan
kepada keduanya perkataan ‘ah’, dan janganlah kamu membentak mereka dan
ucapkan kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. al-Isra’: 23).
عن
عبد الله بن عمرو رضي الله عنهما قال جاء رجل إلى رسول الله صلى الله عليه
وسلم فقال جئت أبايعك على الهجرة وتركت أبوي يبكيان فقال ارجع إليهما
فأضحكهما كما أبكيتهما
Dari Abdullah bin Amr berkata, “Ada
seseorang yang datang kepada Rasulullah seraya berkata, ‘Saya datang
demi berbaiat kepadamu untuk berhijrah, namun saya meninggalkan kedua
orang tuaku menangis.’ Maka, Rasulullah bersabda, ‘Kembalilah kepada
kedua orang tuamu dan buatlah keduanya tertawa sebagaimana engkau
membuat keduanya menangis.’” (HR. Abu Dawud dengan sanad shahih, lihat Shahih Targhib, 2481).
عن
ابن عمر رضي الله عنهما قال كان تحتي امرأة أحبها وكان عمر يكرهها فقال لي
طلقها فأبيت فأتى عمر رسول الله صلى الله عليه وسلم فذكر ذلك له فقال لي
رسول الله صلى الله عليه وسلم طلقها
Dari Abdullah bin Umar berkata,
“Saya mempunyai seorang istri yang saya cintai, namun Umar membencinya,
dan dia mengatakan kepadaku, ‘Ceraikan dia.’ Sayapun enggan untuk
menceraikannya. Maka, Umar datang kepada Rasulullah lalu menyebutkan
kejadian itu, maka Rasulullah berkata kepadaku, ‘Ceraikanlah dia.’” (HR.
Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah dan Ibnu Hibban dan beliau
menshahikannya. Berkata Tirmidzi, “Hadits ini hasan shahih.”).
عن
عبد الله بن عمرو بن العاص رضي الله عنهما عن النبي صلى الله عليه وسلم
قال الكبائر الإشراك بالله وعقوق الوالدين وقتل النفس واليمين الغموس
Dari Abdullah bin Amr bin Ash, dari Rasulullah bersabda, “Dosa-dosa besar adalah berbuat syirik kepada Allah, durhaka kepada kedua orang tua, membunuh jiwa serta sumpah palsu.” (HR. Bukhari).
Dan
untuk mengetahui banyak hadis tentang pahala berbuat bakti pada kedua
orang tua dan ancaman bagi yang durhaka kepada keduanya, lihatlah Shahih
Targhib wat Tarhib oleh Syaikh Al-Albani pada bab ini. Wallahu a’lam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar